Minggu, 29 April 2012

makalah tata tertib sekolah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah, pendidikan pada hakekatnya adalah sebagai usaha menyiapkan anak didik untuk menghadapi lingkungan hidup yang senantiasa mengalami perubahan, dan pendidikan itu pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan pribadi dan masyarakat. Pendidikan merupakan usaha dasar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah. Berbagai usaha untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional telah dilakukan antara lain :

a. Pemantapan/pemutakhiran kurikulum

b. Peningkatan jumlah prasarana pendidikan dalam rangka usaha pelayanan yang lebih merata.

c. Peningkatan jumlah tenaga guru dalam rangka peningkatan dan pemerataan pelayanan pendidikan.

d. Peningkatan mutu sarana dan prasarana pendidikan (Prof. Dardji Darmodiharjo,S.H. , 1983:9)

Berdasarkan uraian diatas , timbullah berbagai pemikiran dan usaha-usaha yang dilakukan para ahli pendidikan melalui pembaharuan-pembaharuan yang sekarang telah dilaksanakan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga pendidikan non pemerintah. Salah satu faktor penunjang keberhasilan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah guru. Tugas guru bukan hanya sebagai pengajar tapi sebagai pendidik, yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tugas pendidik tidak akan lepas dari kewajiban seorang guru sesuai dengan pandangan sebagai berikut :

a. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila

b. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi ( jasmani dan rohani ) bagi anak didiknya.

c. Guru menghargai dan menghormati individu dan kepribadian anak didikya masing-masing

d. Guru dengan sungguh-sunguh mengintensifkan pendidikan Pancasila.

e. Guru melatih dalam memecahkan masalah dan membina daya kereasi siswa agar dapat menunjang kehidupan masyarakat yang sedang membangun.

f. Guru membantu sekolah dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan pada anak didik ( DR.Moh.Surya,1981:32 )

Tata tertib sekolah merupakan salah satu bentuk aturan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh siswa, sebagai satu perwujudan kehidupan yang sadar akan hukum dan aturan. Tata tertib sekolah adalah rambu-rambu kehidupan bagi siswa dalam melaksanakan kehidupan dalam masyarakat sekolah.

Pembinaan guru di sekolah merupakan bagian integral dari upaya pembinaan kesadaran hukum atau aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah. Pembinaan terhadap tata tertib sekolah merupakan salah satu bentuk kegiatan guru Fisika di sekolah dalam rangka pembinaan generasimuda dan pembentukan manusia disiplin dan terdidik.

Masalah yang dihadapi dalam pembangunan pendidikan adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan, baik yang bersifat pengetahuan maupun sikap. Usaha pertama yang dilakukan oleh sekolah dalam pembinaan sikap yaitu melalui tata tertib sekolah.

Sebagaimana diketahui dewasa ini banyak sekali siswa sekolah yang terlibat dalam kenakalan remaja, pergaulan bebas, penggunaan narkoba, tawuran antar sekolah serta penggunaan etika yang salah dalam kehidupan. Oleh karena itu melalui pembinaan tata tertib sekolah diharapkan siswa dibiasakan melaksanakan kehidupan sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakatnya.

Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik untuk mengkaji tentang efektifitas peranan tata tertib sekolah terhadap belajar mengajar yang akan berkaitan dengan perolehan hasil belajar itu sendiri. Maka penulis merumuskan kedalam judul penelitian : “PENGARUH TATA TERTIB SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN SISWA DI SMA NEGERI 1 NYALINDUNG .

B. Perumusan dan Pembatasan masalah

Dalam perumusan dan pembatasan masalah ini, penulis akan membatasi sekitar masalah sebagai berikut :

1. Sudahkah siswa melaksanakan tata tertib dengan baik ?

2. Bagaimanakah peranan tata tertib sekolah terhadap kedisiplinan siswa

3. Pada makalah ini kami hanya mengambil kesimpulan dari penelitian

yang diambil dari siswa SMA Negeri I Nyalindung

C. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari pembatasan masalah diatas, secara khusus penulis dalam penelitian ini bertujuan ingin mengumpulkan data tentang :

1. Ingin mengetahui apakah siswa telah melaksanakan tata tertib sekolah.

2. Ingin mengetahui apakah tata tertib sekolah berperan terhadap kedisiplinan siswa dalam belajar ?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penyusunan karya ilmiah ini adalah mengetahui seberapa besar pengaruh tata tertib terhadap disiplin siswa yang dilaksanakan oleh siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri Nyalindung Dan seberapa besar upaya warga sekolah, khususnya Guru dalam usaha meningkatkannya.

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Variabel Dan Indikator Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian, variabel-variabel yang terdapat di dalam penelitian ini sebagai berikut: PENGARUH TATA TERTIB SEKOLAH adalah variabel bebas atau variabel (X), Sugiono menjelaskan mengenai variabel bebas sebagai berikut:

“Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, input, predictor dan antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (variabel terikat). Jadi variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi”. (Sugiyono,2002 : 2)

Indikator dari variabel X diatas adalah sebagai berikut :

1. Pengertian Tata tertib sekolah

2. Tujuan tata tertib sekolah

3. Peran dan Fungsi Tata Tertib Sekolah

4. Sikap Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah

Sedangkan KEDISIPLINAN SISWA adalah variabel terikat atau variabel Y, Sugiyono (2002:3) menjelaskan tentang variabel terikat ini sebagai berikut :

Sering disebut sebagai variabel respon, output, criteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas

Indikator dari variabel Y diatas adalah sebagai berikut :

1. Pengertian Disiplin Siswa

2. Disiplin Siswa Di Sekolah

3. Disiplin Siswa Di Kelas

1) Pengertian Tata Tertib

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu pasti mempunyai kepentingan yang berbeda. Hal ini mengakibatkan banyak kepentingan individu yang satu sama lainnya saling bertentangan, yang apabila tidak diatur maka akan menimbulkan suatu kekacauan. Untuk itulah maka perlu diciptakan suatu aturan atau norma. Peraturan atau norma ini berlaku pada suatu masyarakat dan suatu waktu. Norma sendiri ada yang disebut dengan norma agama, norma hukum, norma kesusilaan, dan norma kesopanan. Norma yang secara tegas melindungi kepentingan manusia dalam pergaulan hidupnya adalah norma hukum. Norma hukum seringkali ditaati oleh masyarakat karena didalamnya terkandung sifat memaksa dan siapa saja yang melanggarnya pasti akan dikenai sanksi. Oleh karena itu dalam setiap lingkungan masyarakat, lembaga, organisasi baik swasta maupun pemerintah pasti memiliki hukum yang harus ditaati.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tujuan membentuk manusia yang berkualitas, tentunya sangat diperlukan suatu aturan guna mewujudkan tujuan tersebut. Lingkungan sekolah khususnya tingkat SMA yang berangotakan remaja-remaja yang sedang dalam masa transisi, sangat rentan sekali terhadap perilaku yang menyimpang. Oleh karena itu diperlukan suatu hukum atau aturan yang harus diterapkan di sekolah yang bertujuan untuk membatasi setiap perilaku siswa. Di lingkungan sekolah yang menjadi “hukum” nya adalah tata tertib sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998: 37), mengemukkan bahwa “peraturan tata tertib sekolah adalah peraturan yang mengatur segenap tingkah laku para siswa selama mereka bersekolah untuk menciptakan suasana yang mendukung pendidikan”. Selanjutnya Indrakusumah (1973: 140), mengartikan tata tertib sebagai

“sederetan peraturan yang harus ditaati dalam suatu situasi atau dalam tata kehidupan tertentu”.

Hal ini mengandung arti bahwa dalam kehidupan manusia dimana pun berada pasti memerlukan tata tertib. Tata tertib adalah patokan seseorang untuk bertingkah laku sesuai yang diharapkan oleh keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dalam lingkungan sekolah tata tertib diperlukan untukm menciptakan kehidupan sekolah yang kondusif dan penuh dengan kedisiplinan.

Melihat uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tata tertib sekolah itu dibuat secara resmi oleh pihak yang berwenang dengan pertimbanganpertimbangan tertentu sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah tersebut, yang memuat hal-hal yang diharuskan dan dilarang bagi siswa selama ia berada di lingkungan sekolah dan apabila mereka melakukan pelanggaran maka pihak sekolah berwenang untuk memberikan sanksi sesuai dengan ketetapan yang berlaku.

2) Tujuan Tata Tertib Sekolah

Sebelum membahas tentang tujuan tata tertib yang lebih luas, akan penulis uraikan terlebih dahulu tujuan dari peraturan. Menurut Hurlock (1990: 85), yaitu: “peraturan bertujuan untuk membekali anak dengan pedoman berperilaku yang disetujui dalam situasi tertentu”. Misalnya dalam peraturan sekolah, peraturan ini memuat apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh siswa, sewaktu berada di lingkungan sekolah. Tujuan tata tertib adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang menunjang terhadap kelancaran, ketertiban dan suasana yang damai dalam pembelajaran. Dalam informasi tentang Wawasan Wiyatamandala (1993: 21) disebutkan bahwa: “ketertiban adalah suatu kondisi dinamis yang menimbulkan keserasian dan keseimbangan tata kehidupan bersama sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa”.

Dalam kondisi sehari-hari, kondisi di atas mencerminkan keteraturan dalam pergaulan, penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana dan dalam mengatur hubungan dengan masyarakat serta lingkungan. Menurut Kusmiati (2004: 22), bahwa tujuan diadakannya tata tertib salah satunya sesuai dengan yang tercantum dalam setiap butir tujuan tata tertib, yaitu:

a. tujuan peraturan keamanan adalah untuk mewujudkan rasa aman dan tentram serta bebas dari rasa takut baik lahir maupun batin yang dirasakan oleh seluruh warga, sebab jika antar individu tidak saling menggangu maka akan melahirkan perasaan tenang dalam diri setiap individu dan siap untuk mengikuti kegiatan sehari-hari.

b. tujuan peraturan kebersihan adalah terciptanya suasana bersih dan sehat yang terasa dan nampak pada seluruh warga.

c. tujuan peraturan ketertiban adalah menciptakan kondisi yang teratur yang mencerminkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan pada tata ruang, tata kerja, tata pergaulan bahkan cara berpakaian.

d. tujuan peraturan keindahan adalah untuk menciptakan lingkungan yang baik sehingga menimbulkan rasa keindahan bagi yang melihat dan menggunakannya.

e. tujuan peraturan kekeluargaan adalah untuk membina tata hubungan yang baik antar individu yang mencerminkan sikap dan rasa gotong royong, keterbukaan, saling membantu, tenggang rasa dan saling menghormati. Berdasarkan uraian diatas, maka setiap warga negara bertanggung jawab untuk menciptakan suasana yang aman, tertib, bersih, indah dan penuh kekeluargaan, agar proses interaksi antar warga dalam rangka penanaman dan pengembangan nilai, pengetahuan, keterampilan dan wawasan dapat dilaksanakan.

3) Peran dan Fungsi Tata Tertib Sekolah

Keberadaan tata tertib sekolah memegang peranan penting, yaitu sebagai alat untuk mengatur perilaku atau sikap siswa di sekolah. Soelaeman (1985: 82), berpendapat bahwa: “peraturan tata tertib itu merupakan alat guna mencapai ketertiban”. Dengan adanya tata tertib itu adalah untuk menjamin kehidupan yang tertib, tenang, sehingga kelangsungan hidup sosial dapat dicapai. Tata tertib yang direalisasikan dengan tepat dan jelas serta konsekuen dan diawasi dengan sungguh-sungguh maka akan memberikan dampak terciptanya suasana masyarakat belajar yang tertib, damai, tenang dan tentram di sekolah. Peraturan dan tata tertib yang berlaku di manapun akan tampak dengan baik apabila keberadaannya diawasi dan dilaksanakan dengan baik, hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Durkheim (1990: 107-108) bahwa: Hanya dengan menghormati aturan-aturan sekolahlah si anak belajar menghormati aturan-aturan umum lainnya, belajar mengembangkankebiasaan, mengekang dan mengendalikan diri semata-mata karena ia harus mengekang dan mengendalikan diri.

Dengan adanya pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa sekolah merupakan ajang pendidikan yang akan membawa siswa ke kehidupan yang lebih luas yaitu lingkungan masyarakat, dimana sebelum anak (siswa) terjun ke masyarakat maka perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengekang dan mengendalikan diri. Sehingga mereka diharapkan mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang tertib, tenang, aman, dan damai.

Tata tertib sekolah berperan sebagai pedoman perilaku siswa, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock (1990: 76), bahwa : “peraturan berfungsi sebagai pedoman perilaku anak dan sebagai sumber motivasi untuk bertindak sebagai harapan sosial…”. Di samping itu, peraturan juga merupakan salah satu unsur disiplin untuk berperilaku. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hurlock (1990: 84) yaitu: Bila disiplin diharapkan mampu mendidik anak-anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka, ia harus mempunyai empat unsur pokok, apapun cara mendisiplinkan yang digunakan, yaitu: peraturan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam peraturan tersebut dan dalam cara yang digunakan untuk mengajak dan memaksakannya, hukuman untuk pelanggaran peraturan dan penghargaan untuk perilaku yang sejalan dengan perilaku yang berlaku. Berdasarkan pendapat di atas, dapat di ketahui bahwa dalam menerapkan disiplin perlu adanya peraturan dan konsistensi dalam pelaksanaannya.

Tata tertib sekolah mempunyai dua fungsi yang sangat penting dalam membantu membiasakan anak mengendalikan dan mengekang perilaku yang diinginkan, seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1990: 85), yaitu:

a. peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui oleh anggota kelompok tersebut. Misalnya anak belajar dari peraturan tentang memberi dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa menyerahkan tugasnya sendiri merupakan satu-satunya cara yang dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasinya.

b. Peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Agar tata tertib dapat memenuhi kedua fungsi di atas, maka peraturan atau tata tertib itu harus dimengerti, diingat, dan diterima oleh individu atau siswa. Bila tata tertib diberikan dalam kata-kata yang tidak dapat dimengerti, maka tata tertib tidak berharga sebagai suatu pedoman perilaku.

Jadi kesimpulan yang dapat penulis kemukakan bahwa tata tertib berfungsi mendidik dan membina perilaku siswa di sekolah, karena tata tertib berisikan keharusan yang harus dilaksanakan oleh siswa. Selain itu tata tertib juga berfungsi sebagai ’pengendali’ bagi perilaku siswa, karena tata tertib sekolah berisi larangan terhadap siswa tentang suatu perbuatan dan juga mengandung sanksi bagi siswa yang melanggarnya.

4) Sikap Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah

Kepatuhan siswa terhadap tata tertib sekolah yang seharusnya adalah yang bersumber dari dalam dirinya dan bukan karena paksaan atau tekanan dari pihak lain. Kepatuhan yang baik adalah yang didasari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan pentingnya peraturan-peraturan atau larangan-larangan yang terdapat dalam tata tertib tersebut. Menurut Djahiri (1985: 25), tingkat kesadaran atau kepatuhan seseorang terhadap tata tertib, meliputi:

a. patuh karena takut pada orang atau kekuasaan atau paksaan

b. patuh karena ingin dipuji

c. patuh karena kiprah umum atau masyarakat

d. taat atas dasar adanya aturan dan hukum serta untuk ketertiban

e. taat karena dasar keuntungan atau kepentingan

f. taat karena hal tersebut memang memuaskan baginya

g. patuh karena dasar prinsip ethis yang layak universal

Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran seseorang khususnya siswa untuk mematuhi aturan atau hukum memang sangat penting. Selain bertujuan untuk ketertiban juga berguna untuk mengatur tata perilaku siswa agar sesuai dengan norma yang berlaku.

5) Pengertian Disiplin

Dalam arti luas kedisiplinan adalah cermin kehidupan masyarakat bangsa. Maknanya, dari gambaran tingkat kedisiplinan suatu bangsa akan dapat dibayangkan seberapa tingkatantinggi rendahnya budaya bangsa yang dimilikinya. Sementara itu cerminan kediplinan mudah terlihat pada tempat-tempat umum, lebih khusus lagi pada sekolah-sekolah dimana banyaknya pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa-siswa yang kurang disiplin.

Menurut Johar Permana, Nursisto (1986:14), Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban.

6) Disiplin Siswa di Sekolah

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar orang mengatakan bahwa si X adalah orang yang memiliki disiplin yang tinggi, sedangkan si Y orang yang kurang disiplin. Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat menaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat (konvensi-informal), pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu (organisasional-formal).

Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin sekolah. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Menurut Wikipedia (1993:115) bahwa disiplin sekolah “refers to students complying with a code of behavior often known as the school rules”. Yang dimaksud dengan aturan sekolah (school rule) tersebut, seperti aturan tentang standar berpakaian (standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku sosial dan etika belajar/kerja. Pengertian disiplin sekolah kadangkala diterapkan pula untuk memberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap aturan, meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metode pendisiplinannya, sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik (physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychological maltreatment), sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. Hyman dan Pamela A. Snock dalam bukunya “Dangerous School” (1999).

Membicarakan tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan, seperti: kehidupan sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Di lingkungan internal sekolah pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering ditemukan yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi, seperti : kasus bolos, perkelahian, nyontek,perampasan, pencurian dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya. Tentu saja, semua itu membutuhkan upaya pencegahan dan penanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin sekolah.

Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah.

Brown dan Brown (1973;115)mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, sebagai berikut :

1. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru

2. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.

3. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home.

4. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal.

2. Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya.

3. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin.

7) Disiplin Dalam Kelas

Sasaran objek kajian tentang disiplin dalam proses belajar mengajar adalah penerapan “tata tertib”. Maka secara etimologis kedua ungkapan itu berarti “tata tertib kepatuhan”. Poerwadarminta (1985:231) menyatakan “Disiplin ialah latihan hati dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu mentaati tata tertib”. Sedangkan tata berarti aturan, karena disiplin timbul dari kebutuhan untuk mengadakan keseimbangan antara apa yang dilakukan oleh individu dan apa yang diinginkan dari orang lain sampai batas-batas tertentu dan memenuhi tuntutan orang lain dari dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliknya dan tuntutan dari perkembangan yang luas.

Disiplin adalah suatu bentuk tingkah laku di mana seseorang menaati suatu peratutran dan kebiasaan-kebiasaan sesuai dengan waktu dan tempatnya. Dan ini hanya dapat dicapai dengan latihan dan percobaan-percobaan yang berulang-ulang disertai dengan kesungguhan pribadi siswa itu sendiri.

Jadi disiplin belajar adalah suatu perbuatan dan kegiatan belajar yang dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan sebelumnya. Kedisiplinan belajar sebagai suatu keharusan yang harus ditaati oleh setiap person dalam suatu organisasi, dengan sendirinya memiliki aktifitas yang bernilai tambah. Unsur pokok dalam disiplin belajar siswa adalah tertib kearah siasat. Pembiasaan dengan disiplin di sekolah akan mempunyai hubungan yang positif bagi kehidupan siswa dimasa yang akan dating. Pada mulanya disiplin dirasakan sebagai suatu aturan yang menekan kebebasan siswa, tetapi bila aturan ini dirasakan sebagai sesuatu yang seharusnya dipatuhi secara sadar untuk kebaikan diri sendiri dan kebaikan bersama, maka lama kelamaan menjadi kebiasaan yang baik menuju kearah disiplin diri sendiri.

B. Kerangka Pemikiran

Dalam setiap jenjang di sekolah baik SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi pasti diperlukan adanya suatu tata tertib. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab anak didik, baik sebagai siswa maupun sebagai pribadi. Dengan cara demikian guru dapat mengantisipasi lebih jauh tentang kecermatan, kecerdasan para siswa dalam mengikuti pelajaran, sikap perilaku dan siswapun secara mudah dapat dikembangkan. Upaya tersebut sebagai acuan guru untuk menganalisa dan mengumpulkan tentang perilaku siswa, sehingga langkah awal timbulnya kenakalan remaja dapat dicegah secara dini.

Dengan pemahaman tata tertib yang baik setiap siswa maka akan terciptalah suatu sikap disiplin. Disiplin ini merupakan perilaku atau sikap seseorang dalam pelaksaaan suatu kegiatan, sesuai dengan norma hukum, peraturan yang berlaku. Sikap disiplin yang dilaksanakan secara sadar dengan hati yang tulus oleh setiap siswa akan mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis, aman, dan tertib sehingga dapat menggalang terciptanga suatu kegiatan pembelajaran yang baik yang dapat mengantarkan kepada terciptanya suatu tujuan pendidikan nasional.

C. Anggapan dasar dan Hipotesis

a) Anggapan Dasar

a. Siswa merupakan individu yang memerlukan pembinaan dan kasih sayang dari orang yang lebih dewasa dari mereka yaitu guru.

b. Pembinaan tata tertib sekolah, akan memberikan dorongan kepada siswa untuk siap mengikuti setiap kegiatan dalam belajar serta menunjang disiplin siswa.

c. Pembinaan tata tertib siswa/sekolah akan mendorong siswa pada sikap dan tingkah laku yang tercermin dalam nilai-nilai Pancasila.

b) Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pemecahan masalah dalam penelitian. Untuk memberikan arah yang jelas, DR. Sudjana, MA,MSc. mengemukakan :

“Hipotesis adalah perumusan sementara mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan untuk menuntun atau mengarahkan penelitian selanjutnya” (1986:213)

Bertitik tolak dari anggapan dasar tersebut diatas, penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut :

a. Apabila tata tertib sekolah dilaksanakan dengan baik oleh seluruh siswa akan berpengaruh terhadap perubahan sikap disiplin siswa dalam belajar.

b. Perubahan tingkah laku siswa disekolah akan terjadi, apabila di tunjang oleh pembinaan tata tertib yang dilaksanakan secara meyeluruh.

BAB III

METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Untuk membuktikan jawaban sementara yang telah dirumuskan, penulis memerlukan data yang obyektif, lengkap dan benar. Data tersebut hanya dapat diperoleh jika penulis menggunakan data yang tepat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalan metode analisis deskriptif. Keuntungan metode ini antara lain :

a. Dalam survey biasanya dilibatkan sejumlah orang untuk mencapai generalisasi atau kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan

b. Dalam survei dapat dipergunakan berbagai teknik pengumpulan data seperti angket, wawancara, observasi, menurut pilihan sipeneliti. ( S. Nasution,1982:35 )

Metode ini dipergunakan karena dalam penelitian melibatkan situasi yang terjadi saat itu, dan untuk menggambarkan apa yang ada dalam penelitian.

B. Tehnik Penelitian

Sesuai metode yang dipergunakan dalam penelitian ini, penulis mengunakan tehnik penelitian sebagai berikut :

a. Wawancara, yang dilakukan kepada guru-guru PFisika dan staf pengajar

b. Observasi, yaitu mengamati secara langsung bagaimana pembinaan tata tertib dilaksanakan oleh guru PFisika terhadap siswa.

c. Angket, yaitu daftar pertanyaan yang ditujukan kepada siswa

C. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini bertempat di SMA Negeri I nyalindung ,sedangkan waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 7-10 Maret 2012.

D. Populasi Dan Sampel

a. Populasi

Yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X ,XI dan XII SMA Negeri 1 Nyalindung Kab Sukabumi sebanyak 855 orang

b. Sampel

Pengertian sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data untuk mewakili seluruh populasi. Hal ini sesuai pula dengan pendapat Suharsimi Arikunto (1996 :117) sebagai berikut.
“Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dimaksud peneliti sampelapabila kita bermaksud menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku begi populasi.”

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang dipandang dapat mewakili secara umum sifat-sifat populasi secara keseluruhan. Untuk menentukan sampel penelitian, maka populasi yang cukup homogen dijadikan sampel penelitian sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Adapun sampel dalam penelitian ini yaitu terdiri dari :

Siswa SMA Negeri 1 Nyalindung Kabupaten Sukabumi, yang berjumlah 300 orang. Sedangkan yamg diambil menjadi sampel hanya 30 orang, hal ini didasarkan atas pendapat Suharsimi Arikunto (1996:120) sebagai berikut :
“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100, maka lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10%-15%, atau 20%-25%, atau lebih.”

Adapun teknik pengambilan sampelnya dengan menggunakan teknik random sampling, alasannya yaitu utuk memberikan kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi anggota sampel. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutrisno Hadi (19987 : 75) bahwa :

“Dalam random sampling semua individu baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama diberikan kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel.”

Dengan demikian kecenderungan penulis untuk memihak kepada anggota sampel yang diperkirakan untuk memberikan jawaban sesuai dengan yang dikehendaki penulis tidak akan terjadi.

E. Analisa Data

Analisis data yang di pakai adalah jumlah persentase jawaban siswa dari setiap pertanyaan yang ada pada angket yang dibagikan, dari data tersebut di ambil kesimpulan keadaan disiplin siswa.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

Dengan metode angket/lembar pengisian soal dari sampel sebanyak 25 siswa di SMA Negeri I Nyalindung ,peneliti berhasil mengumpulkan data dibawah ini:

a.. Pemahaman siswa tentang disiplin

Hasil : dari penelitian 80 % siswa memahami arti dari disiplin sememtara sisanya kurang memahaminya.

b. Sudahkah siswa menerapkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari

Hasil : dari hasil penelitiam di dapat:

§ Sudah menerapkannya 60 %

§ Sedikit/ kadang-kadang 30 %

§ Belum 10%

c. Pernahkah siswa terlambat masuk ke sekolah

Hasil : sebagian besar siswa (70%) pernah terlambat datang ke sekolah.

d. Alas an siswa terlambat

Hasil : hasil jawaban terbanyak adalah factor jarak yang jauh antara rumah dan sekolah, dan ketersediaan angkutan umum.

e. Pernahkah siswa bolos sekolah

Hasil : 20% dari responden menjawab ya, dan sisanya tidak.

f. Alasan jika bolos

Hasil : 30 % menjawab karena iseng, 20 % menghindari salah satu mata pelajaran

Dan sisanya menjawab hanya mengikuti ajakan teman.

h. Pernahkah siswa ditegur langsung oleh guru saat melakukan tindakan yang dinilai kurang disiplin.

Hasil : 30% menjawab sering, 50% menjawab pernah, sisanya belum pernah.

i. Peringatan yang diberikan guru terhadap siswa yang dinilai kurang disiplin

Hasil :

§ 30 % Di tegur saja

§ 30 % Di marahi

§ 20 % Di laporkan kepada orang tua

§ Dan sisanya hanya diberi peringatan saja.

j. Pernahkah pihak sekolah mengingatkan tentang pentingnya pelaksanaan disiplin

Hasil : semua siswa menjawab pernah. Berarti pihak sekolah selalu mengingatkan siswa tentang pentingnya kedisiplinan.

k. Bagaimana cara sekolah mengingatkan siswa pada kedisiplinan

Hasil : adanya hasil yang hampir seragam, yaitu m sekolah mengingatkan siswa dengan pemberian amanat Pembina upacara pada saat upacara dan pelaksanaan penyuluhan langsung, serta penerapan peraturan yang langsung ditindak lanjuti oleh kesiswaan.

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian, kita dapat mengetahui bahwa tingkat kedisiplinan setiap siswa ternyata berbeda-beda, perlu usaha yang lebih serius dari pihak sekolah dalam upaya meningkatkan kesadaran siswa terhadap kedisiplinan. Bukan hanya dengan peraturan yang terkesan mengikat siswa, kedisiplinan bisa tumbuh bila siswa sering diberikan penyuluhan dan pengarahan –pengarahan oleh berbagai pihak terutama lingkungan sekolah.

Beberapa siswa terbukti mempunyai tingkat kedisiplinan yang baik, itu berarti factor utama dalam pelaksanaan disiplin adalah adanya kesadaran, bukan hanya sebuah aturan. Tinggal bagaimana pihak sekolah selaku pembimbing dan pelaksana pendidikan di sekolah, mensiasati permasalahan ini.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Penegakan disiplin di sekolah tidak hanya berkaitan dengan masalah seputar kehadiran atau tidak, terlambat atau tidak. Hal itu lebih mengacu pada pembentukan sebuah lingkungan yang di dalamnya ada aturan bersama yang dihormati, dan siapa pun yang melanggar mesti berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Setiap pelanggaran atas kepentingan umum di dalam sekolah mesti diganjar dengan hukuman yang mendidik sehingga siswa mampu memahami bahwa nilai disiplin itu bukanlah bernilai demi disiplinnya itu sendiri, melainkan demi tujuan lain yang lebih luas, yaitu demi stabilitas dan kedamaian hidup bersama.

Disiplin sekolah, menurut F.W. Foerster, merupakan keseluruhan ukuran bagi tindakan-tindakan yang menjamin kondisi-kondisi moral yang diperlukan, sehingga proses pendidikan berjalan lancar dan tidak terganggu. Adanya kedisiplinan dapat menjadi semacam tindakan preventif dan menyingkirkan hal-hal yang membahayakan hidup kalangan pelajar.

Sementara itu, Komensky menggambarkan pentingnya kedisiplinan di sekolah dengan mengungkapkan, "Sekolah tanpa kedisiplinan adalah seperti kincir tanpa air."

5.1 Saran

Dalam rangka meningkatkan kedisiplinan siswa, ada beberapa upaya yang mungkin bisa dilakukan diantaranya:

1. Untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka;

2. Guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa;

3. Guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah;

4. Konselor Sekolah

Konselor hendaknya mempunyai sifat yang profesional dan memanfaatkan kesempatan untuk membina dan membimbing siswa dalam memahami tata tertib sekolah, mencari dan menemukan gagasan baru untuk mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang tertib, kegiatan belajar mengajar yang disiplin serta mampu menjadi tauladan dalam menjaga ketertiban dan kedisiplinan dalam kegiatan belajar mengajar.

4. Siswa

Siswa hendaknya berusaha untuk memahami tata tertib sekolah dan melaksanakan semua aturan tata tertib tersebut serta menjaga kedisiplinan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai keberhasilan proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Prihananta. (1995). Hubungan Antara Minat masuk FKIP, NEM SMA Bidang Studi Fisika dan Matematika dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Program Pendidikan Fisika PMIPA. Surakarta : FKIP UNS.

Bimo Walgito. (1990). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta Andi Ofset.

Kartini Kartono. (1990). Psikologi Umum. Bandung : Mandar Maju.

Ngalim Purwanto. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Pasaribu, Simanjuntak. (1983). Proses Belajar Mengajar. Bandung : Tarsito.

__________________. (2001). Pedoman Skripsi IKIP Semarang. Semarang; IKIP PGRI Semarang.

Subur Sukardi. (2000).Persepsi Siswa Kelas III SLTP Negeri 1 Petanahan Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 1999/2000 terhadap Gerakan Disiplin Nasional: Yogyakarta;

FKIP Universitas PGRI

Sudarsono, F. X. (1988). Analisa Data 1. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsini Arikunto. (1996). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Sumarno, D. (1995). Gerakan Disiplin Nasional. Jakarta : C.V. Jaya Abadi.

Sumarno, D. (1998). Pedoman Pelaksanaan Disiplin Nasional dan Tata Tertib Sekolah . Jakarta : C.V. Jaya Abadi.

Sutrisno Hadi. (1986). Metode Penelitian. Yogyakarta : Andi Offset.

Witherington. (1984). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Gramedia.

W.J.S. Poerwodarminto. (1984). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

TAP MPR RI No.III/MPR/1993. (1993). Garis-garis Besar Haluan Negara. Semarang : Aneka Ilmu.

2 komentar:

  1. bos minta tolong kasi tahu judul and pengarang buku yang membahas tata tertib sekolah secara lengkap

    BalasHapus
  2. ..gan bisa minta tolong ksih tau judul2 nd pengarang buku yg berisi tntg tata tertib sekolah?

    BalasHapus